Mengapa Anak Perlu Bermain

Orangtua kerap melarang anak, baik yang di usia sekolah maupun pra sekolah, untuk bermain di luar ruangan. Alasannya, bermain di luar akan membuat pakaian kotor dan mengganggu kesehatan karena anak bisa terpapar kuman. Anak-anak pun cenderung didorong untuk bermain di dalam ruangan saja. Padahal, bermain adalah fase yang harus dilalui anak di usia batitanya. Menurut American Academy of Pediatrics, bermain bersama teman-teman sangat penting bagi perkembangan anak. Ketika anak bermain, ia akan mempelajari kecakapan hidup (life skills), yang membantu mereka berteman dan mempertahankan pertemanan tersebut. Sebagai orangtua Anda perlu mendorong anak untuk ikut bermain. Caranya dengan mengajak mereka pergi ke luar di mana ada banyak anak yang sedang bermain atau dengan mengikuti kelompok bermain.  Menurut psikolog Dra Mayke S Tedjasaputra, MSi, pada dasarnya bermain bisa dibedakan menjadi dua, yaitu bermain pasif dan bermain aktif. Yang harus ditekankan orangtua adalah bermain aktif pada anak, di mana anak harus banyak bergerak dan menggunakan motorik kasarnya. Anak perlu terlibat penuh dalam permainan, bukan hanya sebagai penonton. Ajak juga setidaknya dua anak lain sebagai teman bermain. Lebih bagus lagi bila anak bermain di luar ruangan. Dengan bermain di luar ruangan, anak akan mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Secara alami ia akan mempelajari hal-hal baru.

Roslina Verauli, MPsi, psikolog anak dan keluarga, mengatakan bahwa pada usia 2-6 tahun anak tengah mengalami "The Play Years". Pada saat ini kegiatan bermain mendukung berbagai aspek tumbuh kembang seperti fisik dan senso-motor, kognitif yang berkaitan dengan kecerdasan, kemampuan berbahasa, kreativitas, dan fungsi-fungsi eksekutif. Selain itu juga perkembangan psikososial seperti emosi, kepercayaan diri, dan ketrampilan sosial.
"Saat bermain di luar ruangan anak memelajari banyak hal dan menguasai ketrampilan baru di setiap kesempatan," terang psikolog yang juga dosen psikologi di Universitas Tarumanagara ini. Pada saat bermain aktif, pada dasarnya anak mempelajari strategi bermain, bersaing, mengatur teman-temannya, bernegosiasi, serta menerima pendapat dari orang lain. Bermain jadi modal dasar anak membentuk life skills.
"Ketika jam bermain disisipkan 15 menit saja di sela-sela belajar per dua jam belajar, anak lebih konsen saat belajar. Performa belajarnya lebih baik, dan yang paling penting fungsi eksekutifnya berkembang, dan kebutuhan sosial vitalnya berkembang dalam kegiatan bermain," tambah Verauli.
 
Orangtua perlu memahami bahwa anak justru paling banyak belajar melalui kegiatan bermain. Setidaknya, berikan waktu bermain di luar ruangan selama satu jam untuk anak.