Orang Tua Humoris Bikin Anak Pintar, Benarkah?

Si kecil pasti seneng banget punya orang tua yang humoris. Yuk, ajak buah hati tertawa!

Apakah Bunda orang yang humoris? Selamat!  Penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang yang tertawa ternyata lebih sehat, cenderung kurang tertekan karena mengalami lebih sedikit stres. Mereka juga memiliki detak jantung dan tekanan darah yang lebih rendah serta memiliki pencernaan yang lebih baik. Tertawa bahkan dapat membantu manusia mengatasi rasa sakit dengan lebih baik dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh kita.

Orang tua yang humoris juga membawa dampak positif pada anak. Menurut  https://kidshealth.org/ rasa humor orang tua dapat mencerahkan kehidupan keluarga. Yang perlu diluruskan humor bukan bagian dari susunan genetis, seperti rambut keriting atau kaki besar. Rasa humor adalah suatu keterampilan  yang dapat dikembangkan pada anak-anak. Anak-anak dengan selera humor yang baik  akan lebih bahagia dan lebih optimis, memiliki harga diri yang lebih tinggi, dan dapat menangani perbedaan dengan baik. Selera humor yang  tinggi juga bisa membuat anak lebih pintar, lebih sehat, dan lebih mampu menghadapi tantangan.

Cara mengembangkan rasa humor pada anak? Ini beberapa inspirasi sesuai usia buah hati:

Bayi

Bayi tidak benar-benar mengerti humor, tetapi ketika Bunda membuat suara atau wajah lucu lalu tertawa atau tersenyum, bayi akan merasakan suka cita Bunda dan meniru Bunda. Dia juga sangat responsif terhadap rangsangan fisik, seperti saat digelitiki.

Balita

Balita menghargai humor fisik, terutama yang memiliki unsur kejutan (seperti cilukba).  Mereka juga mencoba membuat Bunda tertawa. Saat ditanya "Coba yang mana hidung Adek" yang ditunjuk malah rambut. Atau ia sengaja memakai sepatu Bunda supaya kelihatan lucu.

Prasekolah

Anak prasekolah senang menemukan humor dalam gambar (mobil dengan roda persegi, bukan bulat). Ketidaksesuaian antara gambar dan suara (kuda yang bersuara guk guk) juga lucu untuk kelompok usia ini.

Usia sekolah

Anak-anak yang lebih besar akan senang dengan lelucon sederhana. Mereka menyukai permainan kata atau  teka-teki yang dianggap lucu. Anak usia sekolah juga berusaha menceritakan lelucon dan akan mengulang lelucon yang sama berulang kali.

Siap membuat anak lebih humoris? Jangan lupa memberi batasan pada mereka, ya Bun. Lelucon yang menyangkut fisik, SARA, atau yang bisa menyakiti hati orang lain, misalnya, jangan digunakan. Luangkan waktu untuk menjelaskan kepada anak mengapa lelucon-lelucon seperti itu tidak lucu.

ARTIKEL TERKAIT