Anak Gemuk Tak Selalu Sehat

Anak gemuk itu  lucu. Itu betul, karena setiap anak  memang menggemaskan. Namun ada persepsi yang perlu kita ubah tentang anak gemuk, yakni anak gemuk itu  sehat, sebab kenyataannya tidak selalu seperti itu. Bunda tentu sempat membaca  kisah  Arya Permana, bocah berusa 10 tahun yang memiliki bobot hampir mencapai 190 kg.  Bayangkan anak-anak 10 tahunan dengan tinggi, katakanlah, 140 cm, umumnya memiliki berat  sekitar 32  kg. Arya jauh di atas berat rata-rata anak-anak tersebut karena  mengalami obesitas.

Mengutip http://www.depkes.go.id, berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report (2014), Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan juga overweight (obesitas). Data riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2013) menyebutkan bahwa prevalensi balita gemuk menurut BB/TB pada anak usia 0—59 bulan sebesar 11,8% sedangkan data survei pemantauan status gizi (PSG, 2015) menyatakan prevalensi balita gemuk menurut BB/TB usia 0—59 bulan sebesar 5,3%.

Sementara itu, Riskesdas 2013 menggambarkan kondisi anak di Indonesia sebanyak 8 dari 100 anak di Indonesia mengalami obesitas. Prevalensi obesitas anak yang dihitung berdasarkan indeks massa tubuh dibandingkan usia (IMT/U) pada kelompok anak usia 5—12 tahun besarnya 8%. Prevalensi tertinggi obesitas pada anak usia 5—12 tahun adalah DKI Jakarta.

Tentu data tersebut bukanlah kabar baik. Sebab, jika masalah kegemukan/obesitas tidak ditanggulangi sejak dini, akan meningkatkan prevalensi kasus stroke, serangan jantung, dan penyakit serius lainnya di usia muda sekitar usia  30- 40 tahun.

Obesitas didefinisikan sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Secara kasat mata, obesitas mudah dikenali dari berat badan jauh di atas ideal, dan ciri khas berupa wajah membulat, pipi tembam, dagu bertumpuk, leher relatif pendek, dada yang menggembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan sering menyebabkan lecet. Pada anak lelaki, penis tampak kecil karena "terkubur" dalam jaringan lemak.

Masalah genetik kerap disebut-sebut sebagai salah satu penyebab obesitas pada anak.  Sedangkan faktor lain yang juga pegang peran penting  adalah pola makan yang keliru. Anak-anak sekarang lebih familiar pada makanan cepat saji yang kaya lemak dan karbohidrat tetapi rendah serat. Cokelat, es krim, permen, aneka jenis kue, burger, piza, kentang goreng menjadi hidangan favorit mereka. Pola makan yang salah ini diperparah dengan minimnya aktivitas fisik. Anak-anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk main games sambil duduk santai atau tiduran.

Lalu, kapan orangtua perlu "bertindak" mengontrol berat badan anak? Perhatikan BB terhadap tinggi badan (TB) anak sejak bayi seperti yang tertera pada KMS (Kartu Menuju Sehat). Kalau di atas garis hijau, kemungkinan anak memiliki berat badan berlebih.

 Bila menginjak usia prasekolah (4—6  tahun) berat badannya masih berlebih, maka orangtua perlu memberi perhatian serius dengan mengonsultasikan kondisi ini pada dokter anak. Pasalnya, bila tidak teratasi, berat badan berlebih akan berlanjut terus sampai anak beranjak remaja dan dewasa. Sementara semakin bertambahnya usia dan kemandirian seorang anak, mengubah pola makan dan rutinitas olahraganya juga akan semakin sulit.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak, sediakan segelas susu vidoran Xmart. Jangan khawatir, karena kandungan gula di susu vidoran Xmart tidak berlebihan dan cukup untuk kebutuhan gizi, namun tidak menyebabkan anak kelebihan berat badan.