Cek Asupan Cairan Anak Lewat Air Seni

Seiring dengan bertambahnya usia, si kecil tumbuh menjadi anak yang makin aktif. Dan kondisi ini otomatis membuat mereka memiliki segudang aktvitas yang dapat menguras tenaga dan keringat. Karena itu, jika tidak dibarengi dengan pemberian asupan cairan yang cukup, maka tubuh anak Anda akan rentan mengalami dehidrasi.

Karena risiko anak terkena infeksi yang memicu terjadinya diare lebih tinggi ketimbang orang dewasa, maka risiko anak mengalami dehidrasi pun ikut menjadi lebih tinggi.

Ditambah lagi, anak-anak belum paham mengenai kebutuhan cairan untuk tubuh mereka. Dan pemenuhan kebutuhan cairan anak  masih bergantung pada bantuan dari orang lain, khususnya orangtua.

Karena itu, sebagai orangtua Anda harus lebih peka dan perhatian dalam memenuhi kebutuhan harian si kecil.

Lalu, bagaimana cara Anda cek anak sudah mendapatkan asupan cairan yang cukup? Ada beberapa hal yang bisa menjadi panduan Anda. Tapi salah satunya, lewat air seni.

Anak yang tidak mendapat asupan air yang cukup akan memiliki frekuensi dan volume  buang air kecil yang lebih sedikit. Air seninya pun akan mengalami perubahan warna. Sebab tubuh yang dehidrasi akan membuat warna air seni menjadi lebih pekat atau kuning tua.

Mengapa? Hal ini terjadi karena tubuh secara alami akan menahan semua cairan, termasuk urin. Nah,  semakin lama ditahan, makan semakin banyak pula jumlah kotoran yang terkandung di dalamnya. Hasilnya, warna air seni pun menjadi lebih pekat dan keruh.

Tapi perlu diingat juga bahwa pada masalah dehidrasi ringan biasanya tidak akan memengaruhi volume air seni. Jadi jika frekuensi dan volume air seni si kecil sudah menurun, maka bisa jadi pertanda bahwa mereka sudah mengalami dehidrasi berat.

Tak hanya lewat air seni, anak Anda akan sering merasa haus, sakit kepala, nampak lesu, dan lebih rewel.

FOTO: NAKITA